Kacang

Pagi-pagi itu waktu yang paling tepat buat belanja di pasar, kenapa? Karena udaranya yang sejuk, segar, dan nyaman. Bukan hanya udaranya saja yang membuat pikiran bisa tenang dan mengisi paru-paru dengan udara segara, pemandangan pagi pun kadang membuat kita berpikir apa yang sedang dikerjakan oleh orang-orang saat itu. Mungkin masih ada yang masih meringkuk di samping guling, atau mungkin sudah ada yang masak untuk sarapan sekeluarga, atau mungkin juga ada yang sedang mempersiapkan toko/warungnya; selain itu, kita bisa merasakan jalanan yang sepi dan lenggang, bisa mengendarai mobil/motor dengan leluasa (bukan ngebut ya…. Sama aja cari mati kalau ngebut2an, soalnya kalau nabrak pohon atau masuk ke got ga ada yang nolongin. contoh lain: tiba-tiba ada motor atau mobil yang tiba2 nongol dari belokan sepi = kuburan).
Dengan hati yang senang dan pikiran yang tenang, aku pun pergi ke pasar modern BSD tepat jam 6:00 pagi untuk berbelanja bersama ade bungsuku. Rasanya kurang lengkap kalau ngga ada teman berbelanja, enak kan kalau ditemenin… Bisa ngobrol selama mencari barang yang dicari. Aku awalnya berpikir kalau di pasar tidak akan terlalu penuh dengan orang, tapi ternyata dugaanku meleset. Begitu aku sampai di sana, pasar modern sudah penuh dengan ibu-ibu yang ingin berbelanja, dari turunan China, Batak, Medan, Padang, bahkan Betawi; bergerumul di koridor pasar sambil celingak-celinguk melihat makanan yang dijajakan. Ada pula ibu-ibu yang adu debat dengan pedagang antara harga yang pas atau tawar menawar. Tidak jarang juga ada ibu-ibu yang berteriak-teriak saking ngototnya harga ayam diturunkan.
Semuanya berjalan baik-baik saja dan lancar tanpa ada keluhan, walau harga ayam naik dari Rp 25.000 jadi Rp 28.000 saat itu, tapi tetap saja kami beli karena memang sedang ingin makan ayam goreng untuk makan siang. Hal terakhir yang kita beli dalam list adalah “bumbu”.
Bumbu itu biasanya dijual di tempat mas-mas yang dagang bermacam-macam bumbu dapur seperti: bawang merah, bawang putih, jahe, kunyit, merica, dll; ada yang sudah digerus halus dan ada pula yang masih utuh seperti baru saja dicabut dari tanah dengan paksa. Menjadi yang terakhir adalah pilihan yang tepat, kenapa? Karena membeli bumbu di pasar modern sama dengan perang dengan ibu-ibu. Tidak ada nomor antrian atau bahkan antrian saja tidak ada, menggunakan metode “siapa cepat dia menang”. Mana mungkin lah seorang gadis berumur 20 tahun bisa melawan ibu-ibu yang umurnya sudah kepala tiga semua, yang ada malah ngalah karena sopan santun harus selalu dipergunakan. Akhirnya kalah dalam perang.
Sebenarnya sih itu semua ga masalah kalau pedagangnya bisa tau siapa yang datang duluan dan siapa yang datang setelahnya. Nah… untuk pengalaman ku kali ini,pedagangnya yang rese.
Sudah jelas-jelas, giliran selanjutnya setelah ibu keturunan China yang membeli banyak sekali bumbu rendang dan ayam goreng tradisional adalah aku, yang sudah gemes banget nunggu giliran. Tapi pedagangnya itu malah melayani ibu-ibu yang baru saja datang, note this baru saja datang. Itu artinya, aku harus menunggu beberapa saat; setelah ibu-ibu itu pulang 2 orang wanita yang sudah agak tua menyerobot giliran dan pedagang itu dengan senang hati melayani mereka. Padahal sebelumnya, aku sudah memesan bumbu telor balado, bahkan sudah membayar Rp 2000,-. Tapi bumbu belum juga ada di tangan.
Akhirnya aku menyerah memanggil-manggil pedagang itu untuk melayaniku. Aku menyenderkan dagu di atas tangan, dengan wajah BT aku pun mengendus kesal, tak menggubriskan tukang dagang yang akhirnya..ya… akhirnya! Melihat diriku. Setelah sepi, tidak ada lagi ibu-ibu yang terlihat berdiri di depan jualannya baru lah dia tersenyum ramah seakan-akan tidak terjadi apa-apa.
Dengan senyuman ompongnya pun dia bertanya, “mau beli apa neng?”
“kacang!” jawabku dengan nada santai tanpa melihat si pedagang dan sedikit merengut.
Spontan saja si pedagang tersenyum dan tertawa terbahak-bahak ketika ia sadar bahwa dirinya tidak menjual kacang, dan ia juga tertawa karena melihat tingkahku, aku hanya bisa tersenyum dengan terpaksa dan kemudian meminta bumbu telor balado tanpa menyahut mereka. Walau kesal, rasa “terima kasih” tak lupa aku ucapkan ke mas-mas jualan bumbu. Masih terdengar suara tawa mereka yang membelalak dan menggelegar pasar, berasa ada gempa di sana. Aku pulang dengan senang walau akhirnya memang begitu…. ya… begitulah…
Sejak saat itulah aku mulai ganas kalau belanja di pasar, ngga mau ngalah sama ibu-ibu yang suka main serobot.
Kalau jokenya Raditya Dika: pas cewek liat sale, semuanya berebut untuk ambil barang yang mereka suka. klik disini buat liat serinya. seri 1 dan seri 2.
Kalau ada sale 90% bisa diliat ada mayat-mayat di sana (-by: raditya dika). ngakak. jpg.

3 thoughts on “Kacang

Have anything to say? just comment...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s